![]() |
| Foto : Saat Panen Hepere/Ubi Jalar di Wamena |
“Hepere satu tumpuk murah mo, kalo tra bli mama pu hipere, tra
usah tawar sudah,” kata mama-mama Papua penjual ubi jalar di pasar Wouma,
Wamena dengan nada tinggi sambil mengunyah pinang-sirih. Itulah ciri khas
mama-mama Papua dalam berjualan ubi jalar atau hipere, teknik dagang yang
dipakai harga pas dan sulit ditawar. Ubi jalar merupakan makanan pokok bagi
Suku Dani di Lembah Baliem seperti halnya nasi identik dengan makanannya orang
Jawa serta sagu bagi suku Sentani.
Lembah Baliem terletak di pegunungan tengah Papua pada
ketinggian 1650 meter di atas permukaan laut. Penduduk Lembah Baliem sangat
kreatif dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Pada masa prasejarah telah
mengembangkan pertanian mandiri, dengan membersihkan kawasan sekitar hutan
untuk ditanami. Pada awalnya tanaman yang dibudidayakan merupakan tanaman
endemik setempat yaitu berbagai jenis kacang-kacangan, pandanus, pisang (musa
paradisiacal), keladi (colocasia esculenta), buah merah (pandanus), tebu
(saccharum officinarum) dan ubi rambat (Dioscorea alata).
Ubi jalar (Ipomea batatas) termasuk tanaman hasil introduksi
yang relatif baru di Lembah Baliem karena jenis tanaman ini baru dibudidayakan
sekitar beberapa ratus tahun yang lalu. Pembudiyaannya kemudian menjadi faktor
pemicu ‘ledakan penduduk’ di wilayah dataran tinggi Papua. Pegunungan tengah
Papua sangat menarik dalam perkembangan pertaniannya, pada masa prasejarah penduduknya
telah membudidayakan tanaman endemik setempat dengan menggunakan alat batu,
kemudian teknik budidaya berkembang dengan adanya introduksi ubi jalar sejak
500 tahun yang lalu. Bercocok tanam ubi jalar selain menggunakan peralatan
kapak batu juga dalam perkembangannya menggunakan peralatan sekop dan peralatan
besi dalam hal penyiapkan lahan untuk ditanami.
Penduduk Lembah Baliem dalam menanam pisang dan keladi
diawali dengan membuka lahan yang dilakukan oleh laki-laki. Tahap pertama
adalah membersihkan semak belukar, sedangkan pohon-pohon yang besar dibiarkan
tumbuh. Kemudian semak belukar dikumpulkan, dikeringkan dan dibakar. Setelah
itu, pohon-pohon yang akarnya mungkin mengganggu kesuburan tanaman lain akan
ditebang. Tahap selanjutnya adalah membuat pagar agar tanaman kebun tidak
diganggu binatang liar.
Di Lembah Baliem suatu wilayah di dataran tinggi Papua,
dengan begitu terampil orang mempraktikkan teknik budidaya intensif tanaman ubi
jalar, mereka menggunakan pupuk hijau dan kotoran hewan, pengolahan tanah
menggunakan kapak batu, membuat saluran air, dan pembuatan lahan terasering di
lereng gunung. Peralatan berkebun yang biasa digunakan adalah kapak batu untuk menebang pohon, sebuah tongkat kayu
besi berujung runcing (sege) untuk membuat lubang.
Sebelum adanya ubi jalar, makanan pokok penduduk Lembah
Baliem adalah keladi. Dengan masuknya ubi jalar dengan gizinya dan kegigihannya
tumbuh serta besarnya hasil panen yang didapatkan mengakibatkan terjadi
pergeseran dalam pola makan. Ubi jalar menggeser posisi keladi sebagai makanan
pokok. Tetapi walaupun begitu keladi menjadi makanan spesial dan memiliki
tingkat status yang lebih tinggi dibanding ubi jalar. Keladi menjadi menu utama
dalam upacara-upacara penting dan sakral pada masyarakat Lembah Baliem.
Bukti domestikasi ubi jalar pertama kali ditemukan di Peru
sekitar 2500 SM. Melalui penanaman selektif, akhirnya didapatkan varietas yang
berkualitas. Ubi jalar merupakan tanaman asli Amerika Selatan, karena di
Amerika Selatan kaya akan varietas ubi jalar, kurang lebih 200 varietas
terdapat di daerah pegunungan hingga 8.000 meter di atas permukaan laut, di
pantai dan di hutan kontinen Hulu Sungai Amazon di Peru, Bolivia, Ekuador dan
Kolombia.
Ubi jalar merupakan salah satu umbi asli Amerika Selatan,
dibawa ke Pasifik oleh penjelajah Spanyol. Spanyol membawa ubi jalar dari
Amerika Selatan ke Filipina dan Indonesia sekitar 400 tahun yang lalu, sementara itu ubi jalar mulai
dibudidayakan di Lembah Waghi dataran tinggi Papua New Guinea pada 250 tahun
yang lalu, dan di Lembah Baliem pada 300 tahun yang lalu.
Kehadiran Spanyol di Papua diketahui dari catatan sejarah.
Hernado Cortez raja muda Spanyol di Meksiko pada tahun 1527 mengirim sebuah
armada dengan enam kapal berikut 400 tentara dipimpin Kapten Rui Lopez de
Villalobos dengan tujuan Cebu, dalam perjalanannya dihadang badai kemudian
singgah selama sebulan di Pulau Biak.
Salah satu eksplorasi Spanyol di pantai utara Papua
berlangsung dari 15 Juni 1545 hingga akhir Agustus 1545 dengan menggunakan
kapal San Juan yang dipimpin oleh Kapten Ynigo Ortiz de Retes. Dalam eksplorasi
ini Ynigo Ortiz de Retes memberi nama pulau besar (Papua daratan dengan nama
Nueva Guinea), Kepulauan Raja Ampat diberi nama Kepulauan Magdalena (ilhas de
Magdalena). Pelaut Spanyol lainnya yaitu Luis Vaz Torres pada Juni 1606
berlayar mengelilingi New Guinea melewati selat yang memisahkan Pulau New
Guinea dengan Australia (sekarang selat ini disebut Selat Torres). Ubi jalar tahan
lama disimpan dalam palka kapal, inilah yang menjadi alasan pelaut Spanyol
membawa serta ubi jalar dalam setiap pelayarannya.
Secara linguistik kehadiran ubi jalar dapat diketahui dari
istilah petatas yang digunakan oleh beberapa suku bangsa di Papua untuk
menyebut ubi jalar. Ubi jalar sendiri dalam bahasa suku Indian Amerika adalah
batata, istilah ini sesuai aslinya kemudian diadopsi dalam bahasa Spanyol
batata. Tanaman ubi jalar di Lembah Baliem, tentu saja tidak dibawa langsung
oleh orang Spanyol ke Lembah Baliem atau akibat hubungan langsung orang Lembah
Baliem dengan orang Spanyol. Diperkirakan orang Spanyol memperkenalkan tanaman
ubi jalar ke penduduk pantai utara Papua.
Dengan berjalannya waktu, melalui serangkaian tukar menukar
komoditas antara penduduk pantai dengan pegunungan, pada akhirnya tanaman ubi
jalar diintroduksi di Lembah Baliem. Jalur perdagangan ini diperkirakan dengan
menyusuri Sungai Idenburg, Sungai Rouffaer hingga Sungai Mamberamo. Ynigo Ortiz
de Retes sendiri pernah berlabuh di muara Sungai Mamberamo pada 20 Juni 1545
dan memberi nama Sungai Mamberamo dengan Sungai Santo Agustin. Sedangkan nama
"Mamberamo" berasal dari bahasa Dani - mambe berarti
"besar" dan ramo berarti "air".
Kehadiran ubi jalar di Lembah Baliem menjadi bukti bahwa
walaupun secara geografis Lembah Baliem pada masa lalu dikatakan terisolasi dan
terkurung di tengah-tengah gunung-gunung tinggi, tetapi penduduknya tidak
berdiam diri di tempat. Mereka melakukan serangkaian tukar menukar dengan alat
tukar mege atau kerang (cowry shell).
Bagi penduduk di Lembah Baliem, ubi jalar berperan penting
sebagai makanan pokok utama sejak tanaman ini diintroduksi ke wilayah ini,
walaupun pada saat-saat tertentu, keladi dapat pula berperan penting sebagai
bahan pokok tambahan. Dibandingkan dengan keladi, yang merupakan makanan pokok
masyarakat pegunungan sebelum masuknya ubi jalar, ubi jalar memiliki beberapa
keunggulan. Ubi jalar memiliki daya adaptasi yang luas terhadap kondisi lahan
dan lingkungan. Ubi jalar mampu tumbuh dengan baik di daerah tinggi yang tidak
bisa ditumbuhi oleh tanaman lain. Selain itu ubi jalar dapat tumbuh di daerah
bertemperatur dingin. Jika dibandingkan dengan hasil panen keladi pada luas
lahan yang sama, maka hasil panen ubi jalar kuantitasnya lebih banyak.
Pentingnya ubi jalar telah mendorong orang Dani yang
menghuni Lembah Baliem untuk mengembangkan berbagai teknik budidaya, ubi jalar
umumnya ditanam secara monokultur, seperti wen hipere (kebun ubi jalar yang
terletak di lembah dengan parit-parit yang lebar dan dalam) dan wen yawu (kebun
ubi jalar yang terletak di lereng gunung dengan parit-parit kecil dan letak
bedeng saling bersilangan untuk mengurangi erosi) serta melakukan penanaman
berbagai jenis ubi jalar. Ubi jalar dipanen secara bertahap, setiap panen
diambil umbi yang besar saja sekitar 2-3 buah, dan gundukan ditutup kembali.
Saat panen yang tepat adalah bila tanah sudah retak, yang berarti umbi di dalam
gundukan sudah cukup besar. Terdapat 224
varietas ubi jalar di Lembah Baliem.
Dalam hal pembagian tugas budidaya ubi jalar di Lembah
Baliem lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan. Laki-laki hanya bertugas
membuka kebun, membuat pagar, mengolah tanah, dan membuat saluran air.
Pekerjaan lainnya dilakukan oleh perempuan, meliputi penyiapan setek,
penanaman, penyiangan, panen, dan pengolahan hasil. Kaum perempuan di daerah
ini memiliki kearifan lokal berupa pengetahuan yang luas berkaitan dengan ubi
jalar yaitu mampu membedakan jenis ubi sesuai kegunaannya, sebagai penentu
jenis ubi atau kultivar yang akan ditanam dengan mempertimbangkan jumlah
anggota keluarga serta ternak babi yang dipelihara.
Introduksi ubi jalar di daratan tinggi New Guinea, berakibat
terjadi perubahan yang besar di berbagai hal, baik itu pola pertanian,
peningkatan jumlah penduduk, maupun budaya. Introduksi ubi jalar di lembah Kuk,
dataran Papua New Guinea, telah mengubah pola tanam yang sebelumnya didominasi
oleh keladi. Ubi jalar mudah dibudidayakan di dataran tinggi dibandingkan
dengan keladi. Peningkatan produksi ubi jalar juga diikuti oleh peningkatan
jumlah babi yang dipelihara. Budidaya keladi tidak dapat mendukung pengembangan
babi secara lebih luas. Rupanya babi tidak menyukai keladi mentah, tetapi lebih
suka mengkonsumsi cacing yang tersedia di Lembah Kuk. Namun sejak introduksi
ubi jalar, jumlah ternak babi meningkat secara signifikan. Babi menyukai ubi
jalar mentah.
Meskipun ubi jalar berprotein rendah (1,8%), tetapi penduduk
dataran tinggi New Guinea mendapatkan protein dengan mengkonsumsi daging babi.
Sebagai makanan babi, ubi jalar lebih unggul, sehingga bagi masyarakat pig
centered tentu saja ubi jalar merupakan tanaman yang sangat berharga. Ubi jalar
digunakan sebagai makanan pokok manusia, memiliki karakteristik daging umbi
lembek, tidak berserat, manis dan berwarna kuning, jingga dan ungu. Ubi jalar
yang dijadikan sebagai pakan babi berkarakteristik umbi besar, kulit
pecah-pecah, berserat, rasa tawar, bertekstur keras atau lembek sekali.
Lembah Baliem yang berada di dataran tinggi dengan
temperatur udara dingin rupanya berdampak pada hasil panen tanaman pisang
maupun keladi yang kurang maksimal. Pertumbuhan tanaman keladi sangat
tergantung pada ketersediaan air, sedangkan tanaman pisang membutuhkan
intensitas sinar matahari. Lain halnya ubi jalar yang tidak terpengaruh oleh
ketinggian tempat, temperatur udara
maupun jumlah intensitas sinar matahari, ubi jalar sangat mudah
dibudidayakan dengan hasil panen yang maksimal. Selain itu budidaya ubi jalar
cukup mudah, baik dalam mendapatkan bibit berupa stek dan dapat ditanam pada
lahan di lereng-lereng gunung.
Pertanian secara keseluruhan dapat mendukung kepadatan
penduduk yang jauh lebih tinggi daripada perburuan dan pengumpulan makanan dan
jelas merupakan perekonomian yang dapat memanfaatkan, bahkan mendorong
bertambahnya tenaga kerja anak-anak dan remaja. Budidaya ubi jalar di Lembah
Baliem membutuhkan banyak tenaga kerja, baik itu waktu penyiapan lahan,
penanaman, pemeliharaan maupun pemanenan.
Budidaya ubi jalar di Lembah Baliem secara tidak langsung
telah meningkatkan kesehatan dan mengurangi tingkat kematian masyarakat
setempat, ketersediaan ubi jalar yang cukup sebagai pakan dapat mengurangi
jumlah rumah tangga yang memelihara babi dengan cara dilepas. Pemeliharaan babi
dengan dilepas, selain merusak kebun juga dapat menularkan penyakit hock
cholera dan cacing pita.
Dalam upacara adat suku Dani, seperti perkawinan, kematian,
pelantikan kepala suku, penyambutan tamu, pesta panen, dan festival budaya, ubi
jalar merupakan bahan pangan utama yang dimasak bersama beberapa ekor babi (wam) dengan cara ”bakar batu” (wam ebe ekho).
Memasak dengan bakar batu diawali dengan membuat lubang dalam tanah. Lubang ini dialasi daun-daunan,
kemudian diisi dengan batu yang sebelumnya telah dipanaskan dalam api. Di atas
batu panas ditaruh daun ubi jalar, di atas daun ubi jalar ditaruh ubi jalar dan
daging babi. Seluruh bahan makanan tadi ditutup dengan daun ubi jalar, di atas
daun ubi jalar ditaruh batu panas. Keberadaan ubi jalar dan babi sudah menyatu
dengan kehidupan orang Dani sehingga susah terpisahkan dan sudah menjadi
identitas bagi mereka.
Hari Suroto
Arkelog di Papua
Sumber : student.cnnindonesia.com


0 Komentar