![]() |
| Ilustrasi - Sumber Google |
Proses interaksi social atau
berbagai perubahan dalam setiap kehidupan manusia ini memiliki sebuah
interkoneksi antara satu sama lain yang tidak bisa dipisahkan. Begitu pula
dalam melihat berbagai persoalan social yang dihadapi oleh rakyat Papua saat
ini. Persoalan kemiskinan, persoalan pendidikan yang kurang memadai, persoalan
kesehatan yang kurang memadai, persoalan angka kematian yang membludak, angka
penderita HIV/AIDS yang semakin membludak dan persoalan marjinalisasi atau
tersingkir dari kanca ekonomi, birokrasi, politik atau tersingkir dari tanah
sendiri dan tanah adat dialifungsikan menjadi lahan sawit dan pertambangan
milik pengusahan yang bermodal besar (Kapitalis) sehingga, masyarakat adat
setempat dipaksakan untuk harus menjadi pekerja atau buruh di
perusahaan-perusahaan tersebut dan kemudian setelah menjadi pekerja semua dikontrol
oleh pengusahan atau pemilik perusahaan tersebut termasuk soal upah atau gaji
yang dibayarkan dengan murah sedangkan semua waktu dan tenaga sudah dilimpakan
untuk bekerja diperusahaan tersebut. Akibat dari pembayaran upah atau gaji yang
murah tersebut tentu tidak sebanding dengan kebutuhan sehari-hari sehingga,
membuat masyarakat harus mencari cara lain untuk memenuhi setiap kebutuhan
tersebut sehingga, muncul ide untuk utang (Kredit), mencuri yang secara nyata
sangat beresiko dikemudian hari. Jika, untang atau kredit tidak terpenuhi
sesuai waktu jatuh tempo maka, apa yang menjadi jaminan saat kredit tersebut ak
dan dilelang dan apa bila ketahuan mencuri akan otomatis akan di pidana atau
ditangkap polisi namun, kalau di Papua ketahuan mencuri bisa ditembak mati oleh
polisi dan atau aparat militer.
Dalam upaya menyelesaikan
persoalan-persoalan sebagaimana telah diuraikan secara garis besar diatas tentu
kita semua memikirkannya dan memiliki metode penyelesaiaannya sendiri-sendiri.
Namun, sebelum melangkah pada alternative penyelesaian persoalan alangkah
baiknya untuk kita mengidentivikasi persoalan terlebih dahulu. Sebab, seperti
yang sudah diuraikan diatas bahwa, setiap persoalan ada ada hukum sebab-akibat
dan semua persoalan memiliki interkoneksi antara satu sama lain. Namun, secara
nyata kadangkalah kita memisahkan berbagai persoalan tanpa meninjau saling
keterhubungan antara satu persoalan dengan persoalan lainnya sedangkan secara
nyata dia saling berhubungan.
Tinjuan
Historis
Papua
Jika, kita tinjau secara historis
maka, secara nyata orang Papua Barat mampu memimpin dirinya sendiri dan
mempertahankan hidupnya dengan corak produksi yang sederhana sejak 50.000 an
tahun yang lalu dan dengan berorganisasi dalam kelompok suku-suku yang dipimpin
oleh seorang kepalah suku. Pola kepemimpinan kepala suku ini masih ada sampai
saat ini dan dengan kehadiran bangsa asing (Eropa dan Indonesia) mengakibatkan
proses evolusi sehingga, mengancam hilanganya pola hidup ini. Pola hidup yang
mengedepankan kebersamaan dan kesetaraan (Kolektifitas) dalam berbagai aspek.
Selain itu jika, kita tinjau dari
sudut pandang politik rakyat Papua merupakan sebuah bangsa terpisah dari bangsa
lain termasuk Indonesia, rumpun bangsa Melanesia, ras Negroid yang juga telah
memperjuangkan, mempersiapkan dan mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai sebuah
Negara pada 1 Desember 1961 dengan berbagai perangkat Negara mulai dari nama Negara
West Papua, lagu kebangsaan Hai tanah-ku Papua, lambang Negara Burung Mambruk
namun, kemerdekaan yang sudah secara de facto dan de jure itu digagalkan oleh
Indonesia dengan sokongan Amerika serikat.
Kehadiran
Kolonialisme Indonesia
Bangsa Indonesia sudah dijajah
begitu lamah oleh kolonialisme Belanda selama 350 tahun atau tiga setengah
abad. Selama masa penjajahan Belanda di Indonesia, Belanda telah
mengeksploitasi berbagai sumber daya alam (SDA) dan mempekerjakan orang
Indonesia dijadikan budak yang bekerja untuk kolonialisme Belanda waktu dan
sampai terjadi proses genosida yang tersistematis. Kenyataan akan ketertindasan
inilah yang kemudian menginisiasi untuk lahir berbagai gerakan perlawanan, dari
bentuk yang sederhana dan kelompok yang kecil hingga yang modern melalui
organisasi rakyat yang terorganisir yang anti kolonialisme Belanda dan
Imperialisme Belanda hingga, akhirnya berhasil memproklamirkan kemerdekaan
Indonesia pada 17 agustus 1945 mencakup wilayah Hindia – Belanda (Sabang –
Amboina).
Kondisi akan krisis pasca
kemerdekaan inilah yang kemudian membuat Indonesia dilemah dan akhirnya jutuh
dan bersekutu dengan imperialisme Amerika untuk menjadi menjadi penjajah atas
tanah Papua karena, imperialisme Amerika karena, memang memberikan sebuah solusi atas krisis namun, konsekwensinya harus
menjadi penjajah atas bangsa Papua Barat sehingga, Indonesia yang dulunya anti
terhadap kolonialisme dan Imperialisme kini menjadi colonial atas bangsa Papua
Barat. Yang seharusnya dilakukan oleh Indonesia yang adalah konsisten dengan
menentang sistem kolonialisme dan Imperialisme sekalipun bedah bangsa sehingga,
seharusnya mendukung dan mengakui kemerdekaan Papua Barat yang telah di deklarasikan
kemerdekaan Papua Barat dan membangun hubungan baik dengan rakyat Papua dengan membangun
sebuah blok (Front Persatuan) yang anti terhadap kolonialisme dan Imperialisme
dan kemudian mengatasi krisis dan membangun rakyat secara bersama dan
demokratis bersama rakyat. Lagi-lagi namun, sayangnya harus menjadi penjajah
bagi bangsa lain atas nama pembangunan dan kesejahteraan anak cucu (Indonesia).
Ini menjadi satu dosa dan tanggung jawab generasi Indonesia dari Sabang –
Amboina saat ini.
Akibatnya bangsa Papua Barat yang
baru mendeklarasikan kemerdekaan pada 1 Desember 1961 pada usia 19 hari kemerdekaan
Negara West Papua tepatnya 19 Desember 1961 secara terbuka presiden colonial Indonesia
Ir. Soekarno mengumumkan 3 komando di Alun-alun utara, Yogyakarta yang
diantaranya (1)gagalkan Negara boneka bentukan Belanda. (2) Kibarkan sang merah
putih di Irian Barat tanah air Indonesia. (3) Persiapkan mobilisasi umum. Dan Sebagai
realisasi dari 3 komando ini Mayjend. Soeharto di perintahkan untuk memimpin
operasi Mandala.
Hubungan
Kolonialisme dan Kapitalisme
Antara kapitalisme Amerika
Serikat dan kolonialisme Indonesia tidak bisa dipisahkan sebab sesunggunya
kolonialisme Indonesia adalah anak kandung kapitalisme Amerika serikat. Tidak
hanya kolonialisme Indonesia dan Imperialisme Amerika Serikat namun, pada
dasarnya system Imperialisme (Kapitalisme) adalah ibu kandungnya system kolonialisme.
Tanpa kapitalisme tidak aka nada kolonialisme. Mengapa demikian ?
Pada prinsipnya sistem ekonomi kapitalisme
berlandaskan pada ideologi liberalisme yang pada dasarnya lebih pada kebebasan
induvidualistik sehingga, system ekonomi kapitalisme menghendaki kebasan induvidu
secara ekonomi dengan persaingan bebas untuk mengakumulasi profit bagi si kapitalis
itu sendiri bukan untuk kebutuhan bersama. Namun, untuk mengakumulasi profit
harus memiliki hasil produksi (barang hasil olahan pabrik) dan barang hasil
olahan pabrik ini membutuhkan bahan mentah. Bahan mentah inilah yang dikelolah
manjadi barang jadi yang kemudian bisa di jual, Dan untuk menjual membutuhkan
pasar yang kemuan hasil jualan itu menghasilkan uang dan menjadi keuntungan
bagi kapitalis.
Agar dapat mencapai hasrat
mengakumulasi profit inilah maka, Papua Barat menjadi salah satu target
kapitalisme Amerika serikat sebab, Papua Barat memenuhi syarat karena, Papua
Barat merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam (SDA) ada minyak, emas,
tembaga, memiliki hasil laut, hutan dan perkebunan, secara sumber daya manusia masih
belum cukup memadai sehingga, belum mampu menganalisa lebih jauh akan
kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan kondisi materiil yang ada sehingga,
anggap sangat potensial untuk kemudian dikendalikan dan control demi kepentingan
kapitalisme.
Indonesia menjadi pilihan untuk
menjadi penjajah (meng-koloni) Papua Barat pada saat itu pun juga karena, Indonesia
memenuhi syarat untuk menjadi “Anjing Penjaga” sebab, pasca kemerdekaan
Indonesia mengalami krisis akan pemenuhan kebutuhan pokok dan mempertahankan
kemerdekaan dan secara letak geografis Indonesia lebih dekat dengan Papua Barat
yang menjadi target imperialisme AS sehingga, Imperialisme Amerika Serikat
memanfaatkan kesempatan itu untuk beretorika sehingga, atas nama kesejahteraan
dan kemakmuran anak cucu (Indonesia) menjadi penjajah bagi bangsa Papua Barat.
Kolonialisme Indonesia dalam
menjaga lahan imperialisme AS dan antek kapitalis lainnya harus berupaya sekuat
tenaga dengan menggerakan militer dan polisi serta ormas reaksioner sebagai
gerda terdepan dengan mengatasmanakan semangat nasionalisme (Nasionalisme teritorial)
yang mengorbankan banyak korban anggota Militer dan polisi serta ormas reaksioner.
Kesimpulan
Semua realitas social dan realitas
akan ketertindasan ini dilakukan oleh Imperialisme, Kapitalisme, Kolonialisme
dan Militerisme yang bersatu dan saling berhubungan antara satu dengan yang
lain untuk terus melanggengkan penindasan demi mengakumulasi profit.
Namun, apa bila secara nyata Imperialisme,
Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme bersatu untuk menindas orang Papua
Barat sedangkan, orang Papua Barat yang nyata-nyatanya terjajah dan dijajah
mengapa tidak mau bersatu dengan saling beritegrasi antara satu komponen
perjuangan dengan komponen perjuangan lainnya dalam sebuah front persatuan demi
pembebasan nasional Papua Barat?
_
Penulis : Ap Huwi


0 Komentar