Ilusi dan Retorika Elit Borjuasi Lokal Papua

Sumber : Facebook.com

Dalam dunia dewasa ini secara umum terbagi dalam dua kelas yaitu kelas borjuasi dan juga kelas proletariat. Kelas borjuasi adalah kelompok yang menganut paham liberalisme yang mengedepankan kebebasan individual sehingga, persaingan antar sesama itu baik sehingga, secara nyata yang kuat dan memilik modal besar akan selalu menjadi pemenang dan yang sebaliknya akan tetap ditindas dan itu dianggap sesuatu hal yang wajar. Yang ditindas dan dihisap inilah yang disebut kelas proletariat kerena, mereka tidak memiliki modal namun, mereka memiliki kemampuan produktifitas.
Secara politik mereka ini memiliki kekuasaan dan otoritas untuk membuat kebijakan namun tentunya kebijakan yang di buat harus untuk berpihak untuk kepentingan kelas modal. Kepentingan untuk terus berinvestasi, mengeksploitasi dan melakuakan penghisapan kepada rakyat sehngga, mereka bisa terus menerus mengakumulasi modal atau kekayaan mereka.
Untuk terus mempertahankan praktek-praktek mereka untuk mengakumulasi modal atau kekayaan ini mereka memiliki perangkat untuk membangun hegemoni atau membangun ilusi-ilusi guna meninabobokan kelas proletariat atau tertindas ini agar terus tergantung dan percaya pada kelas borjuasi yang secara nyata adalah penindas rakyat.
Di Papua dewasa ini secara sadar dan tidak sadar sedang berada dalam kecaman kelas bermodal dan elit borjuasi yang sedang mengekploitasi dan melakukan penghisan baik sumber daya alam maupun manusia Papua. Mereka itu adalah para investor dan penguasa seperti, gubernur, bupati dan para birokrat lainnya. Terlepas dari mereka sebagai orang Papua, sesame agama, ras, budaya yang sama namun, mereka adalah penindas yang juga menindas rakyat Papua sendiri namun, supaya rakyat tidak menyadari bahwa, mereka adalah juga penindas mereka akan beretorika dan memberikan ilusi-ilusi atas persoalan-persoalan rakyat.
Rakyat Papua saat ini rentan dengan berbagai pelanggaran HAM seperti, perampasan ruang hidup, perampasan tanah adat, termarjunalkan dan berbagai persoalan social seperti, kemiskinan, tidak dapat pelayanan kesehatan yang baik, pendidikan yang baik dan jaminan social secara baik dan rentan dengan pembunuhan, teror, diskriminasi. Para elit borjuasi sebagai perpanjangan tangan yang melanggengkan dan menjalankan dan mengamankan kepentingan modal ini mereka akan hadir seolah-olah sebagai pahlawan yang akan menyelasaikan segalah persoalan ini dengan memberi harapan mereka akan menyelesaikan pelanggaran  HAM, memberikan jaminan kesehatan, pendidikan dan jaminan social demi kemakmuran rakyat namun, nyata-nyatanya hanya sebuah janji palsu atau ilusi semata tanpa realiasasi secara konkrit.
Akhir-akhir ini ada beberapa ilusi yang dibangun oleh elit borjuasi di Papua seperti, yang telah dikomsumsi oleh rakyat Papua seperti, gubernur Papua perna berjanji bahwa, jika ada orang Papua yang dapat tembak dia (gubernur Papua) akan lapor ke PBB. Sedangkan sejak disampaikan pernyataan ini hingga, kini rakyat Papua banyak yang ditembak mati oleh militer Indonesia tanpa kejelasan hukum namun, belum juga laporkan ke PBB. Ataukah masih kurang ataukah gubernur tidak mengetahui akan adanya penembakan ataukah dia lupa akan janjinya ? entahlah. Ini adalah wujud hegemoni melalui ilusi atau janji palsu yang disampaikan dan secara nyata tidak mungkin akan dilakukan sebab, secara structural gubernur adalah bagian perpanjangan tangan dari pemerintahan borjuasi di Papua. Selain itu seorang gubernur pun tidak dapat serta merta melaporkan ke PBB sebab, semua itu ada mekanismenya sudah diatur secara tersistematis dan terstruktur sesuai hierarki birokrasi.
Selain itu juga, setelah beberapa elit borjuasi yang terdeteksi tindak korupsi oleh KPK langsung secara membludak menggerakan kelompok-kelompok yang bisa dikatakan reaksioner dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang secara nyata tidak logis dan rasional seperti, adanya upaya teror, intimidasi terhadap mereka sedangkan mereka mau berbicara jujur dan memperjuangkan aspirasi rakyat namun, selalu diteror oleh pemerintah pusat.
Hal semacam ini hanyalah sebuah retorika yang dimainkan guna menarik simpati rakyat Papua dan kemudian rakyat Papua tidak melihat bahwa, mereka jugalah yang melanggengkan penindasaan terhadap rakyat Papua sehingga, turut memperpanjang penderitaan rakyat Papua sehingga, mereka tidak akan perna atau tidak punya kuasa untuk menyelesaikan persoalan rakyat Papua terutama persoalan penindasan dan atau penjajahan dan membawah rakyat Papua pada pembebasan atau kemerdekaan.
Sedangkan persoalan korupsi biarlah KPK dan penegak hukum yang menyelesaikan secara hukum yang berlaku. Jika, ditemukan bersalah berdasarkan fakta hukum maka, diproses secara hukum dan jika, tidak terbukti secara hukum otomatis mereka tidak akan diproses secara hukum namun, jika reaksinya demikian ada apa sebenarnya.
Dengan demikian rakyat Papua harus jeli dan melihat dan menganalisis secara objetif dengan unsur-unsur mata rantai penindasan bersama perangkat atau antek-antek borjuasi yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain yang menindas rakyat Papua saat ini agar tidak terhegomoni oleh ilusi dan retorika yang dibangun oleh elit borjuis local Papua terlepas dari kesamaan ras, suku, bahasa, agama, dll.
“ Namun, apa bila para birokat Papua ini secara sadar (tidak ilusif) sebagai sesama orang Papua yang ditindas oleh kolonialisme dan kapitalisme sudah seharusnya melakukan mengorganisasian dan melakukan mogok birokratis dan segalah produk kebijakan ala colonial dan kapitalisme yang menindas ”

Posting Komentar

0 Komentar