Ini Kronologis Lengkap Pengusiran dan Pembubaran Paksa Oleh TNI/Polri, Preman dan Ormas Karena Nonton Film Sejarah Papua Barat di Malang




MALANG - Pada hari minggu, 01 juli 2018 lalu Aliansi Mahasiswa Papua kota Malang melakukan pemutaran film dan diskusi sejarah bangsa Papua dalam rangka memperingati 47 tahun proklamasi West Papua 1 Juli 1971-2018 namun, usir dan dibubarkan paksa oleh TNI/Polri, intel, preman dan ormas reaksioner. Berikut adalah kronologis lengkapnya :

Hari Jumat, 30 Juni 2018

Pada pukul 15:00, Untuk memeringati 47 Tahun Proklamasi Negara Papua Barat, 01 Juli 1971/2018, Aliansi Mahasiwa Papua (AMP) Mengeluarkan Seruan Nonton Bareng dan Diskusi FILM Sejarah Papua (PDP) dan Mempertegas Proklamasi Westa Papua 01 Juli 1971 di Victoria. Kegiatan ini dilaksanakan di Kontrakan Sekertariat IPMAPAPARA Jl. MT. Haryono Gang 8C, No.986B Dinoyo Malang). Peserta diskusi, Mahasiswa Papua dan Organisasi Prodemokrasi di Malang, Jadwal diskusi 18:00 – Selesai.

Hari Minggu, 01 Juli 2018 

AMP KK Malang memperingati HUT Proklamasi Negara West Papua yang Ke-47 di Sekrtariat IPMAPAPARA Malang.

Jam 16:00, Penghuni Kontrakan IPMAPAPARA didatangi RT setempat dan Intel berpakaian premen. Mereka membawa himbauan (terlampir), yang intinya melarang dilaksanakannya kegiatan Nobar dan Diskusi sesuai seruan yang dipublish di Media Sosial (Facabook dan Whatsap). Penghuni menerima himauan terseut dan selanjutnya diserahkan kepada kawan-Kawan AMP, Musa Pekei dan Ferry Takimai.

Jam 18:00, Peserta diskusi sudah banyak dan semakin banyak. Kemudian, pada 18:30, diskusi AMP dimulai dengan menonton bersama FILM Sejarah Papua sebagai pengantar menuju diskusi, yang dipandu oleh Musa Pekei dan Yustus Yekusamon.

Pukul 19:30, Rombongan Ormas reaksioner (bukan warga setempat) hanya Ketua RT saja yang dilibatkan, mereka mencoba memasuki pintu pagar kontrakan dan dihadang oleh panitia keamanan (Yohanes dan Felle), terjadi adu mulut, proses negosiasi, namun ormas dan intel berpakaian preman, TNI dan Polisi mendobrak masuk secara brutal dan meminta untuk semua peserta diskusi segera keluar dan pulang ke kontrakan masing-masing, kami masih tersus melakukan negosiasi.

Pukul 19:35, sementara kami bernegosiasi dengan ormas dan intel berpakaian preman, 2 TNI masuk kedalam kontrakan disusul preman serta intel dan memaksa kawan-kawan untuk keluar dan tinggalkan tempat diskusi, namun kawan-kawan masih bertahan. Sementara negosiasi kawan Yohanes dan Felle dipukul. Yohanes diludahi dimuka, dicaci maki, namun kami tidak membalasnya. Sementara itu, aparat kemanan hanya menonton dan malakukan proses pembiaran.

Pukul 19:40, Ormas reaksioner, preman, TNI, dan Polisi, mulai membanting pintu dan jendela kontrakan secara brutal, dan memaksa membubarkan, serta memulangkan peserta diskusi.

Pukul 19:50, Mereka mulai menggiring kami keluar kontrakan, kamar-kamar kami digrebek dan barang kami disita, beberapa barang kami yang disita, Laptop 8 unit, 2 Hp Opo, 2 Hp Samsung, 1 Proyektor, dan Barang-barang lainnya yang masih di kontrakan, yang dikunci dan diamankan oleh warga. Beberapa barang di dalam kontrakan dirusaki oleh ormas, pintu didobrak, alata-alat masak, makan dan minum pun ditendang dan dihancurkan.

Pada 20:00, kawan Yustus dan Yohanes diijinkan masuk kedalam kontrakan dan melakukan negosiasi ulang dengan Intel, preman, ketua RT dan TNI. Kami disuruh tinggalkan kontrakan, dan pindah secara paksa dengan alasan karena mengadakan diskusi Sejarah Perjuangan Papua. Kami menolak dan akan tetap menetap di Kontrakan ini. Tampak Jelas ormas dan preman yang terlibat bukan warga di kompleks, tetapi didatangkan dari tempat lain. Kami terus dipaksa mengikuti permintaan mereka dan meminta agar kami pindah, namun kami terus menolak. Kami katakan bahwa, kami akan tetap menempati tempat ini dan akan tidur disini karena ini kontrakan kami, namun Yohanes dan Yustus diseret dan dipukuli keluar dari kontrakan, sembari didorong mereka memeriksa HP dan Laptop dan akhirnya kami bergabung dengan kawan-kawan yang berada diluar.

Timenius Gwijangge, salah seorang korban pemukulan oleh preman yang berdarah di bagian kepalanya.


Pukul 21:00, Kami bergabung dengan kawan-kawan dan melakukan konsolidasi baik namun kami terus didorong keluar dari kompleks gang 8c dan 10 meter sebelum tiba di jalan raya Mt.Haryono. beberapa dari kami kena pukul, dan salh satu anggota kami Kepalanya Pecah berdarah akibat pukulan benda tumpul (besi) oleh Intel, TNI, Polisi dan Ormas, hal ini memancing kemarahan kawan-kawan yang lainnya, akhirnya terjadi saling dorong dan setelah tiba dijalan raya Mt.Haryono Ricuh antara Aparat Kemanan dan Masa AMP

21:15 : Letak Kantor Polisi Sektor Lowokwaru dari tempat kegiatan Kontrakan IPMAPAPARA berjarak sekitar 100 m dan jarak dari tempat kericuhan adalah 30 meter. Selama kejadian ada beberapa polisi dan TNI berpakaian dinas naumun mereka biarkan, seakan ada proses pembiaraan dan penciptaan konflik horisontal.

21,20 : Akibat dari jebakan yang dimain oleh TNI dan POLISI , beberapa cacian verbal yang lontarkan sangat rasis dan ruang demokrasi kami dibungkaam, serta mendapat perlakuan sangat intimidatif dan rasis oleh karena itu kami memutuskan untuk melakukan longmarch dari Dinoyo Lowokwaru ke Mapolresta Malang Klojen sejauh 5 km

22,15: ; Kami tiba di Mpolresta Malang, kami meajutkan aksi spontan kami didepan Mapolresta dan menuntuk agar pihak kepolisian, berhenti melakukan aksi-aksi intervensi dan intimidasi di kontrakan mahasiswa Papua dan menuntut dikembalikanya barang-barang kami yang disitas, serta segerah lakukan pemulihan nama mahasiswa Papua di daerah lowokwaru dan kami juga menuntut tidak boleh ada berita2 yang dipublis untuk mendiskreditkan mahasiswa Papua di Malang, jika ada berita bias dan tidak berimbang yang dimuat oleh media maka kami akam meminta pertanggung jawaban narasumber dan pembuat berita dan juga perusahaan media tersebut.

22:30 kami meminta agar kami dapat menemui Kepala Polresta Kota Malang, untuk kemudian bisa ada hearing antara DPRD Malang, Kapolresta Malang, untuk tidak boleh lagi memata-matai dan mengganggu aktivitas Mahasiswa Papua di Malang.
Pada 23:15, kami melakukan hearing dan Polresta Malang bersedia memfasilitasi untuk ada ruang demokratis antara mahasiswa, DPRD, Polresta dan Ormas Rekasioner (bukan warga asi kompleks itu) dan tidak boleh lagi ada intervensi ruang-ruang demokrasi mahasiswa Papua di Malang, apalagi sampai masuk ke kamar-kamar mahasiswa papua seperti yang terjadi malam itu.

00:00 kami meminta kepastian kepada polresta agar besok bisa pasti untuk kegiatan hearing (kami sdh merekam audio pengkuan Kapolresta) bahwa semua barang besok jam 14:00 akan diberikan sekaligus diadakan heraing antara DPRD, Polresta, Mahasiswa Papua dan harus ada keputusan agar kedepan tidak boleh ada lagi intervensi militer ke ranah sosial mahasiswa Papua dan Pembungkaman Ruang demokrasi.

00:30 : Kami kembali ke masing-masing kontrakan dengan catatan Bahwa jam 14:00 kami akan kembali menduduki Kantor POLRESTA Malang dan meminta untuk segerah Copot Kapolsek Lowokwaru; Kembalikan semua barang-barang kami yang disita; buka ruang demokrasi untuk mahasiswa Papua di Kota Malang dan Kami Mahasiswa Papua akan Bersama mengklarifikasi kejadian yang direkayasa oleh BIN kepada warga sekitar yang selama 8 tahun telah bersama hidup rukun.

01:00 kami semua tiba di tempat tinggal dengan selamat.

Catatan : Kami belum bisa kembali ke Kontrakan tempat kegiatan karena disana ada Preman dan beberapa Ormas reaksioner yang dipasang oleh BIN dan Polisi, TNI. Sesuai rencana besok kami akan kembali menempati tempat kontrakan kami.

Data Mahasiswa Yang terlibat dalam Nobar dan Diskusi, antara lain: Yustus Yekusamon, Errio Gwijangge, Robert Nua, Fery Takimai, Maikel Takimai, Timus Gwijangge, Yilonggen Gwijangge, Landi K, Yohanis Giay, Yusni Iyowau, Musa Pekey, Rudi Wonda, Neson Elabi, Tengki K, Memi Karoba, Awi, Tanggenus Gwijangge, Dus Gwijangge, Sena Gwijangge, Melky Huby, Yarson Gombo, Korry Hubby, Piter Marian, Merani, Yance Mabel, Ronald Huby, Anita Wanimbo, Ida Hubby, Robert Mariam Alua, Agus Daby, Marius Mariam, Otis Kosay, Mira Tebay, Yuke Huby, Ima Pelle, Musa Siep, Erdi Kenelak, Benny Kilungga, Gerry, Emilson Tabuni, Matius Sobolim, Arminus, Teniron Gire, Yibinggeu Suhugum, Yanison Telenggen, Wemi Karoba, Nikson Wonda, Teki Karoba, Freddy Gobay, Rikard Takimai, Andi Waine, Niko, Melly Daby, Rully Simbiak, Dan Arfeli Kafiar.

Data Korban Kekerasan oleh Intel, Preman, TNI, Polisi dan Ormas Reaksioner

Yohanes Giyai diludahi dan dipukul menggunakan galon di kepala, ditarik, dan dipukul beberapa kali di bagian wajah. Timenius Gwijangge sembari diusir keluar dari kontrakan, kena pukul beberapa kali dan akhirnya kepalanya pecah dan berdarah akibat dipukul dari belakang dengan benda tumpul (besi).

Sementara itu, Maikel Takimai dipukul di mata bagian kiri. Yustus Yekusamon : dipukuli beberapa kali dan kaki luka kena batu,bengkak dan keram. Ferry Takimai sempat diseret dan dipukul 2 kali dengan besi di bagian kepala, kepalanya aman karena dia menggunakan helem. Musa Pekei dipukul di bagian kepala 2 kali menggunakan benda tumpul. Felle Ima sempat diseret dan dipukul di bagian kepala dan badan.

Data Barang-Barang yang disita

Dari Yustus disita Hp. Oppo A37 dan motor supra satu buah dan memdapatkan tindakan kekerasan (pemukulan) dari pihak TNI/polri di bagian kaki kiri (Tulang Kering). Timinus mendapatkan tindakan kekerasan (pemukulan di kepala menggunakan batu) oleh TNI/Polri, Intel dan ormas an merampas hp oppo A37 dan satu buah tas berisi alkitab.

Sementara itu, dari Tenion disita sebuah motor honda, Lendi K disita sebuah laptop asus, Isos satu buah motor mio biet, Beni disita sebuah tas berisi buku, KTM, KTP, ATM, dan Dompet. Dari Musa disita sebuah motor happy, Maikel disita sebuah motor bladex, Yohanes disita 1 Buah laptop dan diludahi dimuka dan kena pukul oleh intel dan ormas reaksioner. Yelle : satu buah motor beat merah, cas HP. Maria : satu bauh laptop acer, cas hp aser dan satu buah tas.

Barang- barang milik penghuni kontrakan dan mahasiswa Papua seperti (barang-barang elektronik, buku-buku, alat dapur, alat tidur , dll ) masih disita di kontrakan dan sebagian di rumahnya RT.

Beberapa data barang-barang ( laptop 8 buah, motor 17 buah, tv 1 buah, speaker 1 pasang, hp 4 buah, dll)masih disita di kontrakan dan sebagian di rumahnya RT.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Wonderful blog post. This is absolute magic from you! I have never seen a more wonderful post than this one. You've really made my day today with this. I hope you keep this up!
    Oppo f3 price in Pakistan

    BalasHapus