20 Tahun Biak Tragedi Biak Berdarah, Ini Seruan dan Pernyataan Sikap AMP



20 Tahun Tragedi Biak Berdarah: Kekerasan Kolonial dan Militer Indonesia di Atas Papua Barat

Kekerasan oleh kolonial dan militer Indonesia atas bangsa Papua Barat merupakan kekerasan yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis terhadap rakyat Papua Barat dari tahun ke tahun,  yang mengancam berbagai korban kemanusian,  Alam,  budaya dalam bangsa Papua Barat tersendiri. dan tidak terlepas dari praktek kapitalis dan kedok imperialis antara kolonial Indonesia di Tanah bangsa Papua Barat. Akibat dari Aneksasi bangsa Papua Barat sejak 1 Mei 1963 setelah Rakyat Papua Barat merebut kemerdekaan pada 1 Desember 1961 secara konstitusional de jure dan de facto. Kekerasan tragedi kemanusian terus berlanjut dalam negara kolonial Indonesia serta tepat pada, 06 July 1998 merupakan hari tragedi Biak Berdarah yang ke-20 Tahun yang mengingatkan hingga 2018.

Tragedi Biak, berdarah akibat tindakan dari aparat militer Negara Kolonial Indonesia yang berlebihan melakukan tindakan kekerasan terhadap rakyat yang mengibarkan Bendera Bintang Kejora secara damai dan selama pengibaran Bendera Bintang Kejora dari tanggal, 2-6 July 1998 telah mengorbankan 230 orang. 8 orang meninggal; 8 orang hilang; 4 orang luka berat dan dievakuasi ke Makassar; 33 orang ditahan sewenang-wenang; 150 orang mengalami penyiksaan; dan 32 mayat misterius ditemukan hingga terdampar di perairan Papua New Guinea (PNG).

Kini, telah 20 tahun berlalu tanpa proses penyelesaian kasus dan pembiaran terhadap aparat negara sebagai pelaku pembantaian tersebut. Tindakan pemeliharaan dan melindungi pelaku palanggar HAM, justru melanggengi kepentingan akses eksploitasian sumber daya alam dan menjaga eksistensi mengkoloni Papua. dan disertakan juga, pemusnahan etnis melanesia Papua Barat yang sangat spontanitas yang meningkat terus-menerus, terlihat jelas ketika bangsa Papua di aneksasi dari 1 Mei 1963 hingga 2018 sangat cukup signifikan kekerasan oleh aparatus negara kolonial Indonesia di seluruh Tanah Papua Barat. Ketika Bangsa Papua Barat di aneksasi,  Masif-nya perampasan tanah-tanah adat, serta meningkat represifitas aparat negara disertai dengan kebrutalan penangkapan aktivis Papua Barat yang makin meningkat. Juga, militer  dan sistem di bawah kontrol negara kolonial Indonesia terus melakukan pelanggaran HAM, pembunuhan, pemerkosaan, pengejaran dan penangkapan aktivis Papua, rasialis, penganiyaan,  bahkan memenjara hingga menghabisi nyawa.

Setelah Biak Berdarah, terjadi pula berbagai tragedi-tergedi mulai dari tragedi Wamena Berdarah (2000 dan 2003); Wasior Berdarah (2001); Uncen Berdarah (2006), Nabire Berdarah (2012); Paniai Berdarah (2014),  Nduga berdarah (2017), dan peristiwa lainnya yang negara pun tak menyelesaikan kasus-nya.

Maka, untuk menyikapi yang ke-20 tahun peringatan “Tragedi Biak Berdarah, Dan Kekerasan Kolonial Indonesia atas Papua Barat”,  Sehingga Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Menuntut Indonesia Rezim Jokowi-JK dan PBB Segera:

1. Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua Barat Sebagai Solusi Demokratis.
2. Negara bertanggung jawab atas tragedi Biak Berdarah 1998 yang telah menewaskan ratusan nyawa manusia dan rentetan pelanggaran HAM lainnya di Papua Barat.
3. Buka ruang demokrasi seluas-luasnya dan Jamin Kebebasan Jurnalis dan Pers di Papua
4. Tarik militer (TNI-Polri) organik dan non-organik dari seluruh Tanah Papua.
5. Menutup dan menghentikan aktivitas eksploitasi semua perusahaan MNC milik negara-negara Imperialis; Freeport, BP, LNG Tangguh, Medco, Corindo dan lain-lain dari seluruh Tanah Papua.

Demikian pernyataan sikap ini. Kami menyerukan kepada seluruh Rakyat Papua untuk bersatu dan berjuang merebut cita-cita Pembebasan Sejati Rakyat dan Bangsa Papua Barat. Atas perhatian dan dukungan seluruh Rakyat Papua, kami ucap terima kasih.

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat!




Posting Komentar

0 Komentar