![]() |
| Gamber : Pacebro.com |
Wamena, PUPA dan NARINARE adalah dua sahabat yang tinggal di hutan belantara. Mereka adalah dua sosok pemuda yang suka mengembara dan tinggalnya di hutan-hutan belantara. Di tempat itu, mereka membuka lahan kebun dan menanam berbagai tumbuh-tumbuhan. Jadi mata pencaharian mereka sehari-hari adalah berkebun dan berburu.
Pada suatu siang, ketika mereka pulang dari bekerja di
kebun, mereka sepakat untuk pergi kehutan berburu babi hutan (wam helo). Tapi,
pada waktu berangkat Narinare memutuskan untuk menjaga rumah. Maka hanya Pupa
seorang diri, dengan membawa parang dan tombak sebagai senjata pergi berburu.
Lembah dan bukit pun dia lalui sambil waspada terhadap binatang-binantang
buruan. Akar-akar kayu tak menjadi halangan untuknya.
Menjelang sore, di tepi kali kecil berlumpur, dia melihat
seekor babi hutan sedang berkubang. Pupa mengendap-endap dan mengatur langkah
pelan-pelan memdekati babi yang asyik menikmati lumpur hitam itu. Satu, dua,
tiga, jub…tombak bermata batu yang sangat tajam menembus tepat di jantung.
Seketika itu juga babi langsung tewas. Sorak girang keberhasilan nampak dari
wajah kekar pemuda itu.
Sesampainya dirumah, Narinare bersorank girang melihat babi
besar dan penuh dengan lemak. Dia memasaka daging babi segar dengan lezat.
Sementara mereka memasak, seorang kepala suku yang sedang dalam perjalanan
singgah karena kehausan.
“Bisakah kamu ambilakn air untuk saya, saya sangat
kehausan!!!” katanya.
“Baik Pak. Tunggu sebentar ya, saya akan mengambilkan air
untuk mu!!” jawab Pupa yang menemui kepala suku yang sudah tua itu.
Tanpa basa-basi Pupa berjalan dalam kegelapan dan mengambil
tempat timba air (isoak) dan pergi mengambil air di tempat biasa.
Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara
tetesan air keluar dari batu. Batu itu namanya Wakiruk. Setelah melihat air, ia
mengambil dan cepat-cepat bawa ke rumah lalu memberikannya kepada kepala suku
itu.
“Silakan minum pak!!” Pupa mempersilakan tamunya.
“Terimakasi Nak!” jawab kepala suku.
“Tentu bapak lapar, mari kita makan bersama-sama, karena
tadi kami berburu dan mendapatkan seekor babi besar!!” ajak Pupa.
“Wah…,terimakasi banyak atas tawaran mu nak!” Katanya.
Maka mereka pun makan bersama-sama menikmati makanan masakan
Narinare.
Sementara mereka makan, Pupa membisik sesuatu ke Narinare.
Sementara mereka makan, Pupa membisik sesuatu ke Narinare.
“He, tadi waktu mau ambil air untuk orang itu, saya mendapat
mata air yang baru!” Katanya.
“Oya….dimana tempatnya”? Tanya Narinare.
“Tempatnya dimata air yang kecil itu. Di sampingnya ada muncul
air yang baru!” kata Pupa.
Pagi harinya, Pupa pergi ke mata air yang kecil itu dan
memberi tanda larangan dengan rumput dari hutan, alang-alang (Siruk).
Beberapa hari kemudian, Pupa pergi berburu lagi ke hutan
belantara. Ia menyusuri lembah-lembah curam, bukit-bukit terjal, di hutan
belantara. Telinga, mata, dan penciumannya terus mewaspadai binatang buruannya.
Di saat Pupa berburu, tiba-tiba ia menemukan sungai yang
sangat lebar dengan air yang dingin, melimpah ruah (konon, kali itu dikenal
dengan kali baliem). Ia sangat terkejut karena ada kali yang indah, dengan air
yang melimpah. Maka ia segera kembali kerumah untuk memberi tahukan informasi
itu kepada Narinare.
“Saya menemukan sebuah kali yang sangat besar!!” katannya
dengan tergopoh-gopoh kepada Narinare.
“Oya, dimana kamu temukan kali itu?” tanya Narinare
penasaran.
“Waktu saya berburu di hutan, dan saya terus berjalan sampai
ke dalam, tiba-tiba saya bertemu sebuah kali yang sangat indah dengan air yang
sangat melimpah!” Pupa menceritakan kepada saudarannya.
Narinare mendengar itu, ia agak mengerutkan dahinya.
“Sobat ko harus tahu, kali itu milik orang tua saya!”
Katanya kemudian.
Pupa terkejut mendengar jawaban Narinare. Pupa kurang
percaya dengan jawaban Narinare itu.
“Ah…kamu pasti bohong. Dimana tanah orang tuamu?” kata Pupa
tidak percaya.
“Benar, keluarga saya memiliki tanah disekitar itu. Maka
sungai itupun milik kami. Maka, kamu tidak boleh macam-macam dengan sungai itu!”
kata Narinare agak marah.
“Apa…!? Macama-macam!? Kamu harus tahu ya, sungai itu saat
ini sayalah yang menemukannya. Maka sungai itu milik keluarga saya!!” Kata Pupa
sambil berdiri dan berkacak pinggang.
Perselisihan antara Pupa dan Narinare berkaitan dengan kali
Baliem itu pun tak terhindarkan. Perkelahian tak terhelakan. Mereka akhirnya
berpisah dan bermusuhan.
Masalah ini tersiar sampai ke keluarga masing-masing. Perang
suku pun tak terhindarkan. Anak panah berterbangan ke arah lawan. Satu dua anak
panah menancap di paha, dada, perut para penyerang maupun yang di serang.
Banyak yang jadi korban. Tidak sedikit yang luka-luka. Tidak sedikit pula yang
terbunuh. Perang pun semakin panas.
Kepala-kepala suku pun mulai berunding. Mereka memanggi
semua orang yang terlibat untuk berbicara tentang kali Baliem. Melalui
perundingan yang sangat alot, akhirnya di putuskan bahwa kali Baliem di
serahkan kepada pihak yang berjuang yakni Pupa.
Kata sepakat didapat. Pesta perdamaian pun diadakan.
Babi-babi gemuk menjadi tumbal perdamaian. Perempuan maupun laki-laki, tua
maupun muda, mereka sibuk dengan acara perdamaian. Ada yang mencari kayu, ada
yang mencari sayur, ada yang membersihkan ubi, dan ada pula yang memotong babi.
Barapen (bakar batu) pun dibuat. Mereka duduk dalam kelompok dan menikmati
daging babi barapen sebagai sarana perdamaina. Akhirnnya mereka pun bersatu
kembali, hidup dengan aman dan damai.
Referensi : Pacebro.com
Referensi : Pacebro.com


0 Komentar