![]() |
| Nelson Mandela |
Hari ini (tanggal 02 Februari 2018) saya menonton sebuah
wawancara di YouTube. Oprah Winfrey mewawancarai Nelson Mandela. Menjawab
pertanyaan Winfrey, “Siapa tokoh atau pemimpin dunia yang Anda banggakan?
Apakah Muhammad Ali dari Amerika Serikat, Kol. Khadafi dari Libya, Jasser
Arafat dari Palestina, atau Fidel Castro dari Cuba?” Beliau menjawab dengan
tegas bahwa semua pemimpin yang disebutkan dikaguminya dan dibanggakannya
berdasarkan sumbangan yang mereka berikan di bidang pekerjaan masing-masing.
Mereka pejuang yang kokoh dan berani berdiri berdasarkan apa yang mereka percaya
sebagai sebuah kebenaran, dengan segala kerendahan hati. Jadi, menurutnya
“syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin yang besar ialah kerendahan hati”.
Kerendahan hati bukan berarti sebuah kelemahan atau kehinaan
tetapi sebaliknya sebuah kekuatan dan keagungan; kerendahan hati artinya tidak
sombong dan kerendahan hati ialah tidak egois. Yang pertama, pemimpin yang
rendah hatinya bukan berarti pemimpin itu lemah dan hina. Pemimpin yang rendah
hati tidak menghina harga dirinya, tetapi ia pemimpin yang mengenal baik siapa
dirinya, siapa yang dia pimpin dan apa tanggung-jawabnya. Yang paling mendasar
ia sadar diri sebagai seorang makhluk manusia di muka Bumi yang punya plot
waktu untuk hidup dan berkarya di dunia. Tidak lebih dan tidak kurang.
Menyadari diri sebagai seorang manusia membantu kita
mengakui betapa kita terbatas dalam banyak hal karena kita hanyalah manusia.
Kita terbatas dalam hal waktu dan ruang, terbatas dalam akal dan pikiran,
terbatas dalam kekuatan dan pengetahuan. Kita dibatasi oleh hal-hal di sekitar
kita, yang membentuk dan membesarkan kita. Kita dilahirkan pada suatu waktu,
bertumbuh menjadi dewasa, berkiprah dan menjadi tua dalam batasan waktu dan
tempat kita. Dan akhirnya kita meninggalkan dunia fisik ini pada suatu waktu di
suatu tempat. Kita harus menyadari betapa terbatas dan tidak berarti diri kita
sebagai seorang manusia. Itulah kerendahan hati yang dimaksud Mandela.
Kedua, pemimpin yang besar tidak sombong. Mentalitas, sikap
dan perilaku tidak sombong artinya tidak membangga-banggakan dirinya dengan
alasan apapun.
“Satu definisi tentang kesombongan adalah harga diri yang
berlebihan. Kesombongan demikian membuat seseorang secara tidak patut merasa
dirinya paling penting dan paling unggul, barangkali karena kecantikan, ras,
status sosial, bakat, atau kekayaan. (Yakobus 4:13-16)” <
https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102007086>
Atau juga karena apa yang pernah ia lakukan dalam kehidupan
dia, atau apa yang dicapai oleh dirinya, keluarganya, marganya, sukunya,
bangsanya.
Perhatikan teladan Yesus. Sebelum datang ke bumi, ia adalah
makhluk roh yang perkasa di surga. Dan sewaktu di bumi, ia sempurna, tanpa
dosa. (Yohanes 17:5; 1 Petrus 2:21, 22) Ia memiliki kesanggupan, kecerdasan,
dan pengetahuan yang tak tertandingi. Sekalipun demikian, ia tak pernah pamer
tetapi tetap rendah hati. (Filipi 2:6) Ia bahkan mencuci kaki para rasul pada
suatu peristiwa; dan ia memperlihatkan minat yang tulus kepada anak-anak kecil.
(Lukas 18:15, 16; Yohanes 13:4, 5) Bahkan, sambil menempatkan seorang anak di
sampingnya, Yesus berkata, ”Barang siapa merendahkan dirinya seperti anak kecil
ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan surga.” (Matius 18:2-4) Ya, di mata
Yesus—dan juga Bapaknya—kebesaran sejati berasal dari kerendahan hati, bukan
kesombongan.—Yakobus 4:10. <Ibid.>
Ciri rendah hati yang ketiga ialah “tidak egois”, tidak
egois secara individu maupun secara kelompok. Tidak egois artinya tidak
mementingkan diri, status, kepentingan sendiri demi kepentingan orang orang
lain atau kepentingan bersama. Ia punya kemampuan untuk “mengalahkan dirinya
sendiri” dari ambisinya, hasratnya, niatnya dan bahkan kecanduan yang ada pada
dirinya demi kepentingan bersama.
Kata “aku” (ego) tidak ada dalam kamus otaknya maupun kamus
tutur-katanya. Kata “kami” juga hampir tidak ada. Yang ada ialah “kita” atau
“kita sekalian”, secara bersama-sama, secara utuh, secara keseluruhan. Kalau
jatuh kita bersama-sama, kalau bangun, juga kita secara bersama. Kalau gagal
ataupun sukses, juga kita bersama-sama. Tidak perlu mencari kambing-hitam,
tidak berusaha membenarkan dan menyalahkan satu sama-lain.
Yesus sebagai Sang Pencipta, Raja di atas Segala Raja,
menanggalkan ke-Tuhanan-Nya, turun ke Bumi, menjadi seorang manusia, lahir
sebagai seorang bayi, di kandang binatang, dibesarkan dalam keluarga tukang-kayu,
dan untuk meletakkan kepala saja tidak punya tempat. Sang Pencipta langit dan
Bumi menjadi terlantar, terhina, terbunuh di kayu salib. Ini penyangkalan diri
yang total, teladan terbaik bagi setiap orang di manapun kita berada, yang
mengaku diri bekerja untuk kepentingan umum, kepentingan bersama, kepentingan
bangsa, kepentingan negara, dan sebagainya.
Manusia yang tidak egois akan merangkul semua pihak dan
bersahabat dengan semua orang. Ia nyaris tidak punya musuh, selain egois itu
sendiri sebagai musuh utamanya. Orang yang tidak egois sering menjadi “pemadam
kebakaran” saat kepentingan-kepentingan pihak-pihak lain saling bersentuhan dan
terjadi interaksi tolak-menolak atau timbang-menimbang. Manusia yang tidak
egois tidak akan pernah mencari-cari kesalahan-kesalahan dari orang lain, dari
sesama pejuang, dari sesama umat manusia. Ia selalu menggali dan berusaha
memupuk kesamaan-kesamaan dalam usaha mempuk kebersamaan.
Tiga ciri kerendahan hati ini terkait dengan “emosi”
seseorang, secara emosional mengenal diri sebagai seorang manusia, tidak
membangga-banggakan diri, dan menyangkal diri dengan berbagai asosiasinya. Ini
semua terkait dengan sebuah “mental construct”, bangunan pikiran yang
mempengaruhi sikap dan perilaku manusia.
Nelson Mandela memberikan
saran yang jelas tentang dilema yang dialaminya saat dia berada di penjara,
“Apakah harus mengikuti emosinya membenci dan memusuhi penguasa kulit putih dan
menolak untuk berbicara dengan mereka, ataukah mengikuti pemikiran rasionalnya
berbicara dengan mereka untuk menyelesaikan masalah yang menimpa tanah leluhurnya?”
Dilema ini ia selesaikan dengan cara “merendahkan diri” dan
memfokuskan diri kepada solusi yang tepat untuk mengakhiri apartheid di Afrika
Selatan. Dia keluar sebagai pemenang, walaupun ada berbagai pihak yang
menganggapnya dia melakukan kompromi dengan penguasa tidak manusiawi.
Sesungguhnya kekuatan
seorang pemimpin ada pada kerendahan hatinya. Dengan kerendahan hati ia akan
sanggup mengalahkan semua yang dianggap sulit dan tidak akan pernah
terselesaikan. Dosa dan maut dikalahkan di kayu salib oleh kerendahan Yesus.
Apartheid dikalahkah oleh penyangkalan diri Mandela. Siapa menyusul?
Sumber : Epapua.com


0 Komentar