Mengenang 6 Tahun Kematian Misterius alm. Musa Mako Tabuni

Musa Mako Tabuni - Google

Musa Mako Tabuni adalah salah satu Tokoh pejuang kemerdekaan bangsa Papua yang berani dan konsisten dalam perjuangan melawan Kolonialisme Indonesia, Kapitalisme dan Militerisme di Papua. Dia merupakan salah satu petinggi di dalam organisasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang berbasis di seluruh tanah Papua dan Manado, Sulawesi Utara sebagai ketua I yang kemudian ditembak mati secara misterius oleh densus 88 pada 12 Juni 2012 lalu dan hari ini 12 Juni 2018 tepatnya 6 tahun.

Mengenal Sosok Musa Mako Tabuni

Musa Mako Tabuni lahir di kampung Piramid, kabupaten Jayawijaya, Papua, pada 1979. Sebuah kampung yang menjadi basis perlawanan rakyat Papua terhadap operasi dan pendudukan militer yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 1977.

Sehingga, Mako menghabiskan masa kecilnya dengan cerita-cerita derita konflik keluarga Papua.

Semasa Sekolah Dasar (SD), Mako sering mendengarkan cerita dari para orang tua, termasuk orang tuanya sendiri, tentang perlawanan orang-orang Papua terhadap kekuatan militer Indonesia.

"Walaupun buta huruf tapi tahu kemanusiaan," kata Mako.

"Yang memimpin gejolak 1977 itu anak-anak tamatan SD semua, tapi mereka mengerti (arti) kebebasan itu," kata Mako Tabuni kepada saya, dalam sebuah wawancara di Jakarta. beberapa waktu lalu.

Mako kecil, tumbuh sebagai anak-anak yang hidup di daerah konflik. Ia secara langsung merasakan derita sebagai anak-anak Papua.

Ia mendapatkan cap dan stigma sebagai anak pemberontak. Setiap tanggal 12 atau 13 Agustus sampai 18 Agustus, ia menyaksikan bapaknya digiring dan ditahan di Polres Distrik Asologaima, Jaya Wijaya, Papua.

“Setiap tanggal 17 Agustus harus di tahanan karena ulahnya kakak laki-laki yang dianggap pemberontak. Jadi setiap 12 atau 13 Agustus Bapak saya di tahanan dan dibebaskan pada 18 Agustus," kata Mako.

Sejak Orde Baru, negara melalui militer memberlakukan hukuman itu bagi mereka yang ikut atau orang tuanya tersangkut dalam makar atau merongrong kekuasaan negara, seperti cap komunis di Jawa.

Karena masih kecil, Mako tak mengerti mengapa ayahnya mesti ditahan setiap menjelang tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga tidak mendapatkan jawaban tiap kali ia bertanya.

Hingga di suatu saat, di bulan Agustus, dimana Mako sudah duduk di kelas 5 SD, Mako pergi ke dalam sel penjara di Koramil Distrik Asologaima, kabupaten Jayawijaya, untuk bertemu dan mengantar makanan buat bapaknya.

"Bapak saya cerita, kenapa Bapak begini? Kenapa begini?,” kata Mako, terdiam beberapa saat, menarik nafas panjang dan berat, hingga keluar air mata dan terisak.

"Tidak apa-apa ya," katanya, sambil menahan isakan.

"Dia menjawab kamu jangan pernah menyalahkan kakak laki-laki. Karena dia beranggapan bahwa perjuangan kakak pertama saya itu walaupun dicap oleh negara sebagai pemberontak, tapi dia bilang sesuai harga diri suatu bangsa, sesuai hati nurani dan sesuai Injil yang diterima agama Kristen," kata Mako, kembali terisak.

"Itu dia yang pernah ada cerita. Karena dia berjuang bukan untuk atas nama pribadi dia, keluarga atau atas nama sukunya. Tapi dia melihat jauh lebih besar, untuk menyelamatkan orang-orang, umat Tuhan yang ada di Papua. Maka, saya pun tidak tahu, tidak tahu apa arti kemerdekaan itu. Tapi saya menghormati anak itu. Saya terima risiko, apa pun akibat dari anak itu biarlah saya yang terima," kata Mako, menirukan ucapan ayahnya saat di dalam penjara.

Pesan terakhir yang sangat menyentuh Mako, ketika Bapaknya menuturkan, "Jangan pernah salahkan, atau marah, atau benci, terhadap langkah yang ditempuh kakakmu karena dia orang benar, dekat dengan rakyat, sukunya, bangsanya."

Cerita pahit dan takut ketika masa kanak-kanak juga dia alami ketika kakak keduanya pulang kampung, yang waktu itu sedang sekolah di Jayapura. Mako menuturkan, “waktu itu tentara Indonesia mengurung honai adat, termasuk keluarga kami, dari jam 11 malam sampai jam 8 pagi. Begitu keluar sudah dikelilingi tentara dan orang-orang proNKRI, mereka bilang kakak kedua saya diantar kakak laki-laki pertama, yang dicap OPM. Nah, di situ saya melihat pertama kali kekerasan suatu negara Republik Indonesia."

"Dorang giring kakak laki-laki itu ke Koramil. Di sana dia dipukul, disiksa, diinterogasi. Lalu dikeluarkan karena dia punya kartu dan data perjalanan yang jelas," kata Mako lagi. 

Dua hal yang dialami dan dirasakan Mako semasa kecil melihat bapaknya ditahan adalah, pertama ketakutan dan kedua trauma kalau melihat tentara.

Pengalaman itu membuatnya ia menjadi remaja yang penuh pergumulan. Ketika duduk di bangku SMP, ia mengaku mulai memikirkan sesuatu yang dialaminya di masa kecilnya.

Cerita dan pengalaman pahit dari kekerasan dan hidup dengan suasana menakutkan mulai ia pertanyakan. Dan, sejak ia masuk ke SMP kelas 2 mulai berpikir dan bertindak.


"Nah mulai SMA saya mulai bersikap, di hadapan guru-guru saya melawan. Tindakan melawan itu sudah saya anggap hal biasa," kata Mako, mengenang ketika ia belajar di SMU Negeri 1 Asologaima, Jayawijaya.

Musa Mako Tabuni adalah sosok yang lahir dan besar bersama situasi konflik kemanusiaan hingga, membentuk jiwa revolusioner dari kecil.

Pembunuhan Musa Mako Tabuni


Seorang kawan Mako, bersaksi pada pukul 08.30 Mako keluar dari sekretariat KNPB di Jayapura. Seperti biasa, dengan kaos yang dibalut dengan jaket. Ada tas noken kecil berisi pinang, yang biasa Mako bawa ke mana-mana. Seorang kawan bercerita, akhir-akhir ini Mako sering makan pinang daripada makan nasi.

Pagi itu, Mako berjalan menuju ke putaran (pangkalan) ojek di jalan Perumnas III Waena, di mana di situ ada mama-mama penjual pinang. Di sana Mako duduk menikmati pinang, sambil menunggu jemputan motor dari seorang kawan aktivis. Waktu itu ada hujan rintik, dan tiba-tiba sebuah mobil Avanza dan satu motor menghampiri Mako.

Tepat satu jam kemudian, jam 09.30, beberapa orang bersenjata, yang merupakan anggota polisi, keluar dari mobil datang menembak mengenai salah satu kaki.

Mako sempat jalan menjauh dan kembali satu bagian kaki lagi terkena tembakan. Lalu, tembakan ke arah bagian organ tubuh Mako, di antaranya di bagian kepala hingga tewas.

Jadi, Pembunuhan ini dilakukan dengan sengaja dan terencana secara tersistematis dan tersturuktur oleh negara melalui densus 88

Alasan Pembunuhan Musa Mako Tabuni Oleh Polisi Indonesia

Karena yang pertama dituduh melakukan pembunuhan terhadap warga negara Jerman dan serangkaian penembakan. 

Kedua dituduh melakukan penculikan senjata api milik Polisi yang berdasarkan data Polda Papua diculik dari Waena, Jayapura. Ini setelah dicocokkan (antara) nomor senjata dengan file yang ada. Saat itu dicuri di perumahan yang dimiliki anggota Polri pada 2010. Menurut Kabag Penum Polri Kombes Boy Rafli Amas di Mabes Polri, Selasa (26/6) Sekarang Kapolda Papua. Senjata tersebut berjenis revolver yang diduga sempat digunakan menembak di UNCEN Jayapura. Korban adalah tukang ojek namun belum jelas apakah pistol ini digunakan untuk menembak turis asal Jerman.

Soal jenis senjata berbeda dengan dengan apa yang disebutkan oleh kapolda Papua Irjen BL Tobing yang mengatakan Polisi menemukan satu pucuk senjata jenis taurus yang berisi 6 peluru dan 16 butir peluru kaliber 38 yang ditemukan di dalam tas.

Disini terlihat jelas dari perbedaan informasi ini bahwa, Polisi berusaha mencari alasan dengan mengkriminalisasi kasus namun, sesungguhnya ini adalah murni pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara melalui densus 88.

Pembunuhan yang Terencana, tersturuktur dan Tersistematis oleh Negara

Menurut Gustaf Kawer penasihat hukum yang mendampingi Mako, aparat telah melakukan pembunuhan di luar prosedur hukum, extra judicial killing.

Karena pertama, waktu itu Polda jumpa pers katakan mereka dituduh melakukan pembunuhan warga negara Jerman dan serangkaian penembakan, jadi masing-masing peristiwa melakukan pembuktian sendiri. Siapa pelapor untuk kasus satu, saksinya apa lebih dari satu, alat buktinya cukup, nah ketika alat buktinya cukup bikin pemanggilan, 1, 2, 3 …nah ketiga upaya paksa, nah prosedur ini yang kita tidak pernah dengar."

"Soal kejadian di lapangan, polisi datang tidak menunjukkan surat penangkapan, mobil Avanza yang dipakai bukan mobil dinas, pakaian preman, dan tidak dengan prosedur hukum, dan melakukan penembakan mematikan. Kenapa menembak di bagian kepala, kenapa menembak di bagian dada. Kenapa tidak dibawa ke RS Dian Harapan yang terdekat tapi dibawa ke RS Bayangkara,” kata Gustaf.

"Waktu ditangkap, mereka bilang ada ditemukan pistol di saku celananya. Itu yang aneh, ada argumen yang bertentangan kenapa kalau ada pistol, kenapa kok mau rampas senjata polisi, itu adalah bagian skrenario polisi yang menjadi bagian extra judicial killing, pembunuhan berencana. Ini ada rencana untuk penghilangan orang," kata Gustaf lagi.

Selama menjadi penasihat hukum Mako, Gustaf juga mengenal karakter kepribadiannya yang tenang dalam menghadapi perkara. “Dia tidak arogan daripada teman-temannya. Semangat Mako perlu dicontoh oleh rekan-rekan dia. Semangat yang tidak mungkin padam oleh peluru, semangat dia memperjuangkan keadilan dan kebenaran patut diikuti.”

Dengan ini sudah tambah jelas bahwa pembunuhan ini merupakan pembunuhan misterius yang dilakukan oleh negara melalui densus 88 karena alm. Musa Mako Tabuni merupakan sosok yang berani dan konsisten hingga mampu memobilisasi masa secara besar-besaran untuk menuntut hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua.

Mati Satu Tumbuh Seribu..!

Referensi :

http://www.beritasatu.com/nasional/55524-pinang-terakhir-mako-tabuni.html
http://www.beritasatu.com/nasional/55515-terlahir-untuk-melawan.html
http://www.beritasatu.com/nasional/56420-senjata-mako-tabuni-milik-polisi.html





Posting Komentar

0 Komentar